28 November 2014

Lafalkan dalam Kepala Ketika Merasa Tak Baik

Hidup tidak selalu semulus jalan yang baru diaspal. Ada ribuan alasan untuk merasa sesuatu telah salah dalam hidup kita. Penolakan teman, ... thumbnail 1 summary
Hidup tidak selalu semulus jalan yang baru diaspal. Ada ribuan alasan untuk merasa sesuatu telah salah dalam hidup kita. Penolakan teman, pengkhianatan, kegagalan yang tak disangka-sangka, masa depan yang tak menentu… semua hal itu bisa hadir dengan tiba-tiba, tanpa “mengetuk pintu” rumah kita lebih dulu.
Karena itu, penting bagi kita untuk mengingat beberapa hal saat sedang merasa terpuruk. Ketika sedang jatuh-jatuhnya, melafalkan hal-hal ini bisa melipur lara kita. Hal-hal apa sajakah itu?

1. Ketika merasa prestasimu kalah “wah”, ingatlah bahwa kamu sama menakjubkannya dengan orang lain
Kita seringkali merasa tak baik-baik saja karena melihat orang lain “lebih baik” daripada kita. Karena target pribadi yang akhirnya tak tercapai, kita menganggap diri tak cukup cakap dibanding teman-teman kita. Apalagi ketika mereka sudah menempuh S-2 atau menikah lebih dulu daripada kita.
Padahal sebenarnya, pencapaianmu yang tak secepat dan “se-konkret” mereka bukan alasan untuk merasa tak berguna. Bermanfaat-tidaknya dirimu tidak seharusnya dinilai dari kertas-kertas: entah itu kertas piagam penghargaan, ijazah, surat nikah, atau uang.
Orang-orang akan mengingatmu bukan karena prestasi yang kamu torehkan. Mereka akan lebih ingat saat kamu tersenyum, membantu mereka memungut barang yang jatuh, atau menawarkan mereka pinjaman payung ketika hari sedang hujan dan mereka takut kebasahan. Mereka tak akan pernah lupa saat kamu membuat mereka merasa berharga.

2. Selama ini, kamu sudah mencetak banyak kemenangan yang layak diberi tepukan tangan.
Kamu sudah hidup selama bertahun-tahun. Saat ini, mungkin usiamu akhir belasan, atau akhir angka dua puluhan. Pernahkah kamu menghitung kemenangan-kemenangan kecil yang sudah kamu selama ini sukses kamu torehkan?
Bisa menuntaskan SMA dan masuk perguruan tinggi adalah kemenangan kecil. Bisa memiliki mimpi dan memperjuangkan cita-cita adalah kemenangan kecil. Punya atap untuk pulang, teman-teman untuk bersandar, atau bahkan membayar sendiri biaya hidupmu: itu semua adalah kemenangan yang terjadi berkat kegigihan usahamu sendiri.
Coba deh, pikirkan kembali perjuangan-perjuangan kecil yang dengan tekun kamu lakukan selama ini. Bukankah kamu seharusnya bangga telah mampu melakukannya?

3. Saat dilanda kecemasan dan ketakutan, ingatlah bahwa kamu punya hidup yang kaya. 
Hidup yang baik, kata Aristoteles, bukanlah hidup yang hanya dipenuhi rasa senang. Justru hidup yang seperti itu namanya hedonis, dan seperti yang kamu tahu, hedonisme adalah hal yang harus kita hindari.
Asal tak berlebihan, sebenarnya rasa cemas, takut, atau ragu yang kerap ada di kepalamu itu sah-sah saja. Justru itu yang membuat hidupmu lebih komplit dan kaya, karena hidupmu tak cuma diisi dengan rasa ceria.
Jadi, jangan merasa tak berdaya ketika hidupmu kerap dirundung kecemasan, ketakutan, dan keraguan. Nyatanya kamu mampu kok mengendalikan emosi-emosi negatif di kepalamu itu. Artinya? Kamu justru berhak didaulat sebagai manusia yang kuat.

4. Suatu saat kamu akan sadar: ujian hidup hanyalah tanda sayang dari Tuhan
Kalau ujian sekolah saja sudah cukup menaikkan bulu roma, apalagi ujian hidup? Bukan proses mendewasa namanya kalau tak diiringi pula dengan tantangan dan kesulitan. Suatu saat, kamu akan sadar bahwa ujian hanyalah tanda sayang dari Tuhan.
Mau bukti? Ingat saja ujian-ujian hidup yang sudah kamu lewati selama ini. Pernah punya teman yang membocorkan rahasia akan membuatmu lebih bijak dalam menceritakan masalah pribadi. Pernah dibohongi atau diselingkuhi membuatmu mengerti betapa berharganya komitmen setia. Faktanya, segala hal yang dulu kamu anggap sebagai kesulitan telah menggemblengmu menjadi lebih berdaya. Jadi, jangan merasa lemah ketika kamu diuji lagi. Kamu hanya bertambah kuat dari hari ke hari.

5. Selama bisa membuat orang di sekitarmu tersenyum seketika, kamu baik-baik saja
Selagi kita masih bisa membuat orangtua, adik, kakak, atau teman dekat tersenyum, kita sebenarnya baik-baik saja. Jadi daripada menganggap bahwa ada yang salah dari hidup kita, lebih baik bertanyalah pada diri sendiri bagaimana kita bisa membuat tersenyum orang-orang yang kita sayangi. Apakah dengan menanyakan kabar mereka? Apakah dengan mendengarkan keluh kesah mereka di kantor dan sekolah?
Kita dianugerahi kekuatan untuk membuat orang lain merasa nyaman. Kita diberi kekuatan untuk menolong sesama. Selama kekuatan itu masih utuh di dalam dirimu, kamu baik-baik saja. Seberat apapun bebanmu saat ini, seberapa sulitpun tantangan yang kini kamu hadapi: kamu baik-baik saja. Kamu selalu baik-baik saja.