Latest Post

Profesi Anak Bisa Dilihat Semenjak TK Lohh..

Bagi yang punya anak di TK. Ingin tau mau jadi apakah anak Anda? Mudah. Kumpulkan 30 orang anak TK tersebut, kemudian ibu guru memimpin mereka masuk ruang kelas. Lalu tinggalkan mereka … tunggu beberapa saat … Kita lihat apa reaksi mereka!!!

> Jika mereka tetap ngintil mengikuti terus Ibu Gurunya, nempel terus keluar ruangan … ini cocok di bagian Legal (selalu “merapat” kepada Top Management :D)

> Jika mereka kemudian mengambil mainan balok-balok kayu atau lego … dipasang … lalu diberantakin lagi … pasang lagi … berantakin lagi … Kalo bosen ditinggal … Dia cari mainan yang lain lagi … lalu pasang … berantakin lagi … pasang lagi … naaaahhh ini cocoknya jadi Bagian IT atau Engineering … (bongkar pasang … cari kesibukan sendiri … jika bosen lalu ditinggal …

> Jika ada yang maju ke papan tulis dan menulis-nulis sesuatu di situ … tentu sajaini bagian Training and Development.

> Bertepuk tangan, menyanyi, berteriak-teriak, menari-nari … ini bagian Operation (tukang "heboh" soalnya …).

> Berjalan keluar … Jajan cimol dan harum manis di depan sekolah … Ini bagian Procurement ... (tidak lupa dengan cerewet bertanya … Ini berapa bang … yang itu berapa bang … Yang disitu berapa ?? Ttapi nggak beli-beli karena uangnya kurang).

> Ambil tas, buka bekal, makan-makan, minum-minum, hepi-hepi … haha hihi hah … Ini pasti orang-orang Marketing nih (Everyday is a holiday).

> Jika mereka malah berantem sesamanya, cakar-cakaran dan sebagainya. Ini pasti cocok di divisi Bussiness Development.

> Mendorong-dorong meja, mengangkat kursi, merapi-rapikan kelas, mengelap meja kursi, menyapu kelas … Ini bakal jadi General Affair.

> Lari keluar kelas, main-main di luar, main ayunan, main prosotan, main jungkat – jungkit dan tidak peduli apa yang terjadi di dalam kelas. Ini bagian Sales dan Customer Service.

> Menangis keras, memanggil-manggil Ibu gurunya, mengarang cerita yang termehek-mehek agar dikasihani gurunya, agar bu gurunya memperhatikan dia, mmm ini bagian Quality Control atau Internal Control. (Specialis komplain dan Tukang ngadu).

> Membuka tas, merogoh kantong, membuka dompet barbie ataunarutonya, menghitung uang recehan di sana, atau bahkan menghitung-hitung jumlah jendela yang ada di kelas, itu pasti akan jadi Finance dan Accounting.

> Mengambil crayon, lalu coret-coret dinding, mudah saja ini tentu Graphic Design dong.

> Berceloteh, ngobrol, cerita-cerita sama temannya ngoceh kesana kemari, ngomong sendiri, berdiri di depan kelas sambil ketawa-ketiwi ini bagian Public Relation. (Spesialis ketawa – ketiwi dan ngomong kanan kiri).

> Tarik kursi, berdiri di atas kursi, melihat keluar jendela, menerawang jauh, pura-pura berfikir … Naaaahhh ini lah calon President Direktur kita … (berpandangan visioner jauh ke depan).

> Jika mereka hanya duduk diam, seperti tidak melakukan apa-apa … naaahhh ini bagian Personalia.

> Jika mereka ternyata berdiri di depan pintu, siap siaga selalu memegang handel pintu, buka tutup pintu ….. aaaahhhh ini pasti … Bagian Security atau Door man...

> Ok-Ok bagaimana kalau dia … duduk manis sendirian di pojok, membuka buku, membaca dengan tenang, tangan dilipat di atas meja, rapi dengan harapan Ibu Guru akan memuji dia habis-habisan??? … Mmm maaf tipe ini biasanya tidak diterima di bagian mana pun … orangnya kurang asik soalnya … nggak fun … nggak kompak …. (hihihihihi)

Thumbnail Related Post
 

Mengkondisikan Si Kecil Saat Sholat

“IBU…”, Fauziah, gadis mungil berusia tiga tahun berlari-lari memanggil ibunya. Mendapati yang dipanggil sedang sholat maghrib, serta-merta Si ‘pipi tembem’ itu masuk ke dalam mukena ibu tercintanya. “Bu… ikut sholat,” ujarnya manja. Dari dalam mukena, ia ikuti seluruh gerakan sang ibu sambil tertawa-tawa dengan suara khasnya.

Hambali, kakak kandungnya (5 tahun) juga sebelas-dua belas dengannya ketika diajak ayahnya sholat maghrib berjama’ah di masjid yang ada di kompleks perumahan. Saat ayahnya berdiri roka’at pertama memang ia masih diam. Tapi ketika sujud, mulailah Hambali ‘beraksi’. Bersama teman sebaya yang berdiri di sampingnya, ketika ruku’, mereka saling menginjak kaki lalu senggol-senggolan. Ketika pinggulnya saling beradu “dug”, seketika mereka tertawa-tawa cekikikan. Lain waktu mereka berlari-lari, kejar-kejaran seolah barisan sholat itu pembatas mainan mereka. Percuma rasanya ikhtiar menjauhkan mereka. Saat orang tuanya tengah sholat, mereka bagai magnet yang saling mendekat kembali meski berkali-kali salah satu dari mereka menangis bergantian karena bertengkar beneran.

Dalam kehidupan sehari-hari, sebagian besar kita pernah merasakannya. Mulai dari ditunggangi saat sujud, sampai suara jerit tangis anak yang menarik-narik mukena ibunya ketika shalat. Meski lain bentuk lain rupa, tapi intinya tetap sama, di mata kita anak-anak terlihat sebagai pengganggu kekhusyu’an sholat kita. Karena tingkah laku anak itu, jadilah akhirnya kita sekuat tenaga menahan jengkel atau mungkin tawa. Lebih kerepotan lagi jika situasinya sedang berjama’ah di masjid, misalnya.

Menurut Bariah Rachman, Psi., seorang psikolog lulusan Universitas Indonesia, ketika anak berusia 2-5 tahun mereka cenderung seperti itu dan belum sepenuhnya dapat berkonsentrasi. Shalat dianggap sesuatu hal yang ‘aneh’ bagi mereka sehingga jangan heran jika mereka sering bermain-main bersama orangtua atau temannya yang sedang shalat.

Meskipun begitu, orangtua jagan membiarkan hal ini terus menerus. Sebagai orangtua harus bisa memberikan pemahaman kalau bermain dengan orang yang shalat itu suatu hal yang sangat mengganggu.

Karena anak usia di bawah 5 tahun memiliki daya abstraksi yang masih rendah, sehingga mungkin kurang tepat jika mereka diberi penjelasan tentang konsep sholat dengan panjang-lebar. Maka dalam memberikan penjelasan harus memakai pola ini ‘Anak-anak belajar apa dari apa yang mereka lihat bukan dari apa yang mereka dengar’.

Misal dengan kata-kata, “Bang, kalau Ayah sholat ‘kan diam saja. Jadi, Abang juga harusnya diam seperti Ayah, ya?! Bisa ‘kan?”

Atau dengan kata-kata “Dek, lihat tuh mbak Gita kalau sholat tidak bicara dan tidak lari-lari. Adek juga tidak bicara dan tidak lari-lari ‘kan?”

Dengan mengambil contoh ‘kakak’ tadi, anak akan merasa ada kesamaan antara si ‘kakak’ dengan dirinya. Kalau yang dicontohkannya adalah ibu atau ayahnya mungkin anak akan berpikir, ‘Ayah bukan aku’, atau ia menganggap ‘Ibu raksasa’.

Hindari Memarahi

Apa yang akan Anda lakukan ketika anak terus-menerus mengulang perbuatannya mengganggu orang dewasa yang tengah sholat? Mungkin sebagian dari kita menganggap wajar kalau anak harus diberi ‘pelajaran’ dengan memarahinya. Namun sebisa mungkin harus menghindari untuk memarahi anak, karena memarahi bukanlah satu-satunya solusi.

Dalam sebuah kisah diceritakan, Ketika Rasulullah dipipisi oleh anak kecil, ibu dari anak tersebut langsung memarahi anaknya. Rasulullah yang melihat hal itu bukannya gembira, beliau malah menegur ibu tersebut dengan berkata, “Baju yang terkena kencing dapat dicuci. Tapi hati seorang anak yang terluka tidak dapat diobati.”

Pengkondisian Sholat

Apa yang kita alami mengenai ‘gangguan’ anak terhadap kita ketika sholat sebetulnya adalah hal yang wajar dan biasa seperti halnya Rosululloh yang juga pernah mengalaminya. Seperti dikisahkan ‘Abdillah ibn Sayyid, Rosululloh misalnya pernah sholat bersama sahabat. Tiba-tiba datanglah cucunya, Husain. Sang cucu naik ke atas punggung Rosululloh ketika beliau tengah sujud. Apa yang dilakukan Rosululloh? Alih-alih melepaskan cucunya, yang terjadi kemudian Rosululloh malah memanjangkan sujudnya sehingga para sahabat mengira telah terjadi sesuatu. “Saya tak ingin mengejutkannya (Husain) sehingga ia merasa puas dengan perbuatannya,” kata Nabi ketika ditanya mengapa sujud beliau dipanjangkan (Nasa’i dan al-Hakim dalam al-Ihya’).

Subhanalloh!

Jadi, sekarang rasanya tak cukup menjadi alasan untuk memarahi anak sekalipun ia ‘mengganggu’ sholat kita. Tinggal bagaimana kita mengondisikan diri agar kita tidak terbawa emosi. Misalnya sebelum shalat kita memenuhi hajat si anak seperti buang air kecil atau buang air besar, menjauhkan barang-barang yang mudah pecah dari jangkauan anak, bisa juga dengan meletakkan mainan favoritnya (yang tidak berbahaya, tentunya) di dekat kita (ketika kita shalat berjama;ah) sehingga ia tidak berkeliaran.

Jika ingin membawa anak ke masjid untuk sholat berjama’ah, maka kita harus mengalah untuk berada di shof belakang sehingga tidak mengganggu jama’ah lain.

Biarkan anak menganggap shalat sebagai ‘permainan’ rutin yang menyenangkan, sehingga ketika usia 6 atau 7 tahun, yaitu saat mereka sudah memiliki daya abstraksi yang baik, maka tidak akan sulit untuk memberikan pemahaman konsep sholat kepada anak. Sebagaimana Rosululloh SAW. yang membiarkan kedua cucunya, Hasan dan Husain ‘menunggangi’ punggungnya ketika sujud, dan baru menyelesaikan sujudnya setelah kedua cucunya puas bermain-main. [Auladi No. 09 Th. 1/2005] Islampos

 

Kelemahan Wanita Sebenarnya Adalah Kekuatannya

SEORANG wanita memiliki kelemahan tersendiri. Terutama bagi wanita muslim yang terikat dengan beberapa aturan dalam agama. Dan itulah mengapa kaum feminis berkata susah menjadi wanita, karena melihat beberapa aturan ini:
1. Wanita auratnya lebih susah dijaga (lebih banyak) dibanding lelaki.
2. Wanita perlu meminta izin dari suaminya apabila mau keluar rumah tetapi tidak sebaliknya.
3. Wanita saksinya (apabila menjadi saksi) kurang berbanding lelaki.
4. Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki.
5. Wanita perlu menghadapi kesusahan mengandung dan melahirkan anak.
6. Talak terletak di tangan suami dan bukan isteri.
7. Wanita kurang dalam beribadah karena adanya masalah haid dan nifas yang tak ada pada lelaki.
Itu sebabnya mereka tidak henti-hentinya berpromosi untuk “memerdekakan wanita.”
Tapi, lihatlah kebalikan dari kelemahan itu. Dibalik kelemahan tersebut wanita memiliki kekuatan yang teramat besar.
1. Benda yang mahal harganya akan dijaga dan dibelai serta disimpan ditempat yang teraman dan terbaik. Sudah pasti intan permata tidak akan dibiarkan terserak bukan? Itulah bandingannya dengan seorang wanita.
2. Wanita perlu taat kepada suami, tetapi tahukah lelaki wajib taat kepada ibunya 3 kali lebih utama daripada kepada bapaknya?
3. Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki, tetapi tahukah harta itu menjadi milik pribadinya dan tidak perlu diserahkan kepada suaminya. Sementara apabila lelaki menerima warisan, ia perlu/ wajib juga menggunakan hartanya untuk isteri dan anak-anak.
4. Wanita perlu bersusah payah mengandung dan melahirkan anak, tetapi tahukah bahwa setiap saat dia didoakan oleh segala makhluk, malaikat dan seluruh makhluk Allah di muka bumi ini. Dan tahukah jika ia meninggal dunia karena melahirkan adalah syahid dan surga menantinya.
5. Di akhirat kelak, seorang lelaki akan dipertanggung-jawabkan terhadap 4 wanita, yaitu: isterinya, ibunya, anak perempuannya dan saudara perempuannya. Artinya, bagi seorang wanita tanggung jawab terhadapnya ditanggung oleh 4 orang lelaki, yaitu: suaminya, ayahnya, anak lelakinya dan saudara lelakinya.
6. Seorang wanita boleh memasuki pintu surga melalui pintu surga yang mana saja yang disukainya, cukup dengan 4 syarat saja, yaitu: shalat 5 waktu, puasa di bulan Ramadhan, taat kepada suaminya dan menjaga kehormatannya.
7. Seorang lelaki wajib berjihad fisabilillah, sementara bagi wanita jika taat akan suaminya, serta menunaikan tanggung-jawabnya kepada Allah, maka ia akan turut menerima pahala setara seperti pahala orang pergi berjihad fisabilillah tanpa perlu mengangkat senjata.
Masha Allah, demikian sayangnya Allah pada wanita dari beberapa hal yang banyak dianggap lemah oleh orang lain, ternyata adalah kekuatannya mereka.
SubhanAllah...
 
 
My Support : Wildan and Cania
Copyright © 2011. takitu
Created and Published by Risdiana
Proudly powered by Blogger http://www.takitu.net/